Rabu, 01 April 2015

KALA DEMOKRASI MELAHIRKAN “MONARKHI” DI ACEH: SELF-GOVERNMENT?



Datang MoU Helsinki ke Aceh, masyarakat Aceh telah diperkenalkan istilah politik baru, yaitu self government, Aceh mengurus diri sendiri. ‘Ceritanya’ ia berbeda dengan otonomi khusus yang pernah berlaku di Aceh. Namun ‘rasanya’ belum dinikmati oleh masyarakat Aceh. Elit politik baru Aceh masih menampakkan gaya elit politik lama (yang katanya perpanjang tangan penjajah Jakarta) di Aceh, lebih mementingkan diri dan kelompoknya. Aceh dieksploitasi untuk kepentingan mereka, tanpa peduli rugi yang ditanggung oleh rakyat Aceh. Sehingga rakyat Aceh merasa dijajah di negara sendiri ketika itu.

Pasca damai, Aceh telah empat kali menjalankan pesta demokrasi. Hasilnya mantan pejuang kemerdekaan medominanasi domain politik Aceh. Estafet politik Aceh, dari GAM ke GAM. Bahkan lebih dari itu, Aceh sempat atau pernah dipimpin oleh satu keluarga Dr. Zaini Abdullah (Gubernur) dan Drs. Hasbi Abdullah (Ketua DPRA) (2012-2014). Mudah-mudahan bukan ini yang dimaksudkan dengan Self Government; uroh Aceh sare kedroe-droe, alias “monarkhi” produk demokrasi.